Pesangon 32 Kali Gaji Disepakati Dalam RUU Cipta Kerja

Omnibuslaw-watch.id, Jakarta- Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja klaster ketenagakerjaan sudah tuntas. Badan Legislasi (Baleg) DPR bersama pemerintah dan elemen masyarakat telah menyepakatinya. Beberapa poin akhirnya sudah diketok palu dalam klaster ketenagakerjaan, salah satunya pemberian pesangon sebesar 32 kali gaji.

Soal pesangon, pemerintah dan DPR telah mendapat masukan dari para stakeholder, akhirnya disetujui tetap ada pesangon dengan jumlah 32 kali gaji. Rinciannya, 23 kali ditanggung oleh pemberi kerja atau pengusaha, serta sisanya ditanggung oleh pemerintah.

“Ini seperti undang-undang existing atau yang berlaku sekarang. Pesangon tetap 32 kali gaji. Soal pesangon, upah minimum, dan jaminan kehilangan pekerjaan semuanya sudah diketok palu dan tuntas dibahas. Seluruh fraksi sudah setuju dan poin-poin ini sudah mendapat masukan dari elemen terkait mulai dari pemerintah, DPR, serikat pekerja, dan pengusaha,” kata anggota Badan Legislasi Firman Subagio, Senin, 28 September 2020.

Terkait Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), Ketua Baleg DPR Supratman Andi Agtas mengatakan pemerintah dan DPR sepakat tetap dijalankan dengan syarat atau kriteria tertentu. UMK juga tetap ada menyesuaikan inflasi dan tidak dikelompokan secara sektoral.

“RUU ini dirancang untuk menjamin upah yang paling tinggi agar tidak turun. Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) tetap ada dengan dasar perhitungan pertumbuhan dan inflasi daerah,” kata Supratman.

Hal lain yang disetujui di klaster ketenagakerjaan adalah soal Jaminan Kehilangan Pekerjaan, Jaminan Hari Tua, dan Jaminan Kecelakaan Kerja. Semua jaminan kehilangan pekerjaan ini, pada intinya disetujui untuk tetap disubsidi melalui upah dengan menggunakan data BPJS Ketenagakerjaan.

Pelaksanaan Jaminan Kehilangan Pekerjaan ini, akan tetap menjadi tanggungan yang diambil oleh pemerintah. Iuran kepesertaan juga akan tetap disubsidi dan ditanggung oleh pemerintah yang realisasinya bisa diatur sebagai bagian dari iuran BPJS Ketenagakerjaan.

“Status Pekerja Kontrak Waktu Tertentu (PKWT) akan diberikan jaminan kepastian dan perlindungan untuk para pekerjanya. Ini akan berlaku juga untuk pekerja outsourcing,” kata Supratman.

Skema dan besaran jaminan kehilangan pekerjaan ini nantinya akan diatur oleh pemerintah. Pada dasarnya, ini tidak akan banyak berubah dari ketentuan yang berlaku saat ini.

Firman mengapresiasi pembahasan klaster ketenagakerjaan yang relatif mendapat masukan cukup positif. “Ini semua hasil kerja sama antara DPR, pemerintah, dan stakeholder termasuk serikat pekerja. Pada akhirnya semua fraksi dan elemen mendukung klaster ketenagakerjaan di RUU Ciptaker ini,” pungkas Firman.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Customized Social Media Icons from Acurax Digital Marketing Agency
Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram